Makalah I’jaz (Kemukjizatan) Al-Qur’an

Download Materi Kuliah Lengkap

MAKALAH I’JAZ (KEMUKJIZATAN) AL-QUR’AN

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah ‘Ulumul Qur’an Dosen Pengampu: M. Aba Yazid, M.S.I

Disusun oleh: 
  1. Dwi Yunia Ariani 2013113084
  2. Lili Kholilah 2013113096
  3. Nurul Qomariyah 2013113116
  4. Alwi Sya’bana 2013113144 
  5. Rafika Diah Ardiyani 20131130

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

Segala puji bagi Allah, yang telah melimpahkan rahmatNYA, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah kami yang berjudul ”I’jaz dan Mu’jizat”. Sholawat serta salam tetap kita curahkan kepada junjungan kita nabi agung Muhammad SAW yang kita tunggu syafa’atnya di hari yaumul kiamah nanti.

Kami mohon maaf apabila dalam penulisan makalah masih banyak kekurangan, karena kami masih dalam tahap pembelajaran. Dan kami harap makalah ini dapat memeberikan manfaat kepada semuanya terutama bagi kelompok kami pribadi, akhir kata.

Wassalamualaikum wr.wb

Pekalongan,September 2014
Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Al Qur’an merupakan mukjizat terbesar Rasulullah Muhammad SAW. untuk disampaikan kepada segenap umat manusia di dunia dan dijadikan sebagai pedoman hidup bagi manusia dan merupakan kitab suci bagi umat islam.Al-Quran sebagai mukjizat terbesar tidak henti-hentinya diteliti dan dikaji. Kandungan kitab suci tersebut terus menerus digali oleh para pengkajinya. Mereka berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang otentisitas al-Quran, kebenaran kandungannya, nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya.

Kajian al-Quran sebagai mukjizat ini berkenaan dengan kehebatan al-Quran dalam menantang dan mengalahkan berbagai upaya orang-orang yang mencari atau mencari-cari kekurangan atau kelemahan al-Quran seperti seperti yang di lakukan Pemimpin Quraisy pernah mengutus Abu Al-Walid, seorang sastrawan ulung yang tiada bandingannya untuk membuat sesuatu yang mirip dengan Al-Qur'an ketika Abu Al-Walid berhadapan dengan Rasulullah SAW. Yang membaca surat Fushilat, ia tercengang mendengar kehalusan dan keindahan gaya bahasa Al-Qur'an dan ia pun kembali pada kaumnya dengan tangan hampa.Berdasarkan penjelasan di atas. Maka makalah ini membahas topik tentang definisi i’jaz dan mu’jizat Al-Qur’an, Tujuan ijazul Qur’an, segi-segi ijazul Qur’an.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian I’jaz dan Mu’jizat

Menurut bahasa kata I’jaz adalah mashdar dari kata kerja a’jaza yang berarti melemahkan. Kata i’jaz ini termasuk fi’il tsulatsi mazid yang berasal dari fi’il tsulatsi mujarrad ajaza yang berarti lemah, lawan dan qadara yang berarti kuat/mampu.

Kata i’jazul Qur’an ialah melemahkannya al-Qur’an. Suatu susunan yang terdiri dari dua kata yang berbentuk idhofah. Yaitu, dimudahkannya kata i’jaz kepada pelakunya, yaitu al-Qur’an, sehingga berarti melemahkannya al-Qur’an. Sedangkan maf’ulnya (siapa objek yang melemahkan) dibuang atau tersimpan.

Adapun pengertian mu’jizat, menurut bahasa ialah suatu hal yang luar biasa, ajaib, menakjubkan, atau melemahkan. Menurut istilah, mu’jizat ialah sesuatu yang luar biasa yang melemahkan manusia baik sendiri maupun kolektif untuk mendatangkan sesuatu yang menyerupai. Mu’jizat ini hanya diberikan kepada Nabi/Rasul Allah.[1]

Jika ada yang mengaku sebagai Nabi/Rasul dan berdakwah kepada masyarakat, dengan menegaskan bahwa dia diutus Allah SWT, maka bukti dari kebenaran ucapannya ituadalah berupa mu’jizat. Misalnya, seperti Nabi Musa a.s yang mengeluarkan tangannya dari saku bajunya, lalu bercahaya dengan sinar yang terang, yang lain dari tangan orang lain. Lalu dengan sinar yang terang Nabi Musa a.s berkata: “saya datangkan dari sisi Allah hal yang luar biasa ini dalam hal-hal yang kalian mahir dan sangat mengetahuinya. Saya tantang kalian meski saya sendirian, untuk mendatangkan tandingan yang seprti ini. Di hadapan kalian kesempatan terbuka luas, karena kalian jua punya keahlian dalam hal ini. Silahkan tandingi apa yang saya keluarkan tadi”.

Orang yang memiliki akal sehat, sudah barang tentu tidak ragu lagi, bahwa manusia jujur yang disenjatai dengan mu’jizat yang luar biasa tadi, tentulah benar-benar seorang nabi/Rasul. Segala yang disampaikan adalah benar.

B. Macam-macam I’jaz

Ada dua macam mu’jizat yang Allah berikan kepada Rasul-rasul-Nya, yaitu:

Pertama: Hissiyah atau Indrawi, mu’jizat ini berupa tongkat Nabi Musa, Onta Nabi Shalih, dan lain-lain.

Kedua: Aqliyah, mu’jizat ini diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, berupa Al-Qur’an.[2]

C. Syarat-syarat I’jaz

Menurut penjelasan para ulama’, syarat-syarat mu’jizat ada lima. Kurang satu saja dari lima itu, tidaklah dinamakan mu’jizat, yaitu:

· Harus berupa hal yang tidak disanggupi oleh selain Allah tuhan seru sekalian alam.

· Berbeda dengan kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam.

· Harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh rasul Allah sebagai bukti atas kebenaran dari pengakuannya.

· Terjadi bertepatan dengan pengakuan Nabi yang mengajak bertanding menggunakan mu’jizat tersebut.

· Tidak ada seorangpun yang dapat menandingi dalam pertandingan itu.[3]

D. Tujuan I’jazul Qur’an

Dari pengertian i’jaz dan mu’jizat diatas dapat diketahui bahwa tujuan I’jazul Qur’an itu banyak, diantaranya yaitu:

1. Membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW yang membawa mu’jizat kitab Al-qur’an itu adalah benar-benar seorang Nabi/Rasul Allah. Beliau diutus untuk menyampaikan ajaran-ajaran Allah SWT kepada umat manusia dan untuk mencanangkan tantangan supaya menandingi Al-qur’an kepada mereka yang ingkar.

2. Membuktikan bahwa kitab Al-qur’an itu adalah benar-benar wahyu Allah SWT, bukan buatan malaikat Jibril dan bukan tulisan Nabi Muhammad SAW.

3. Menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasa manusia, karena terbukti pakar-pakar pujangga sastra dan seni bahasa Arab tidak ada yang mampu mendatangkan kitab tandingan yang sama seperti Al-qur’an yang telah ditantangkan kepada mereka dakam berbagai tingkat dan bagian Al-qur’an.

4. Menunjukkan kelemahan daya upaya rekayasa umat manusia yang tidak sebanding dengan keangkuhan dan kesombongannya. Mereka ingkar tidak mau beriman mempercayai kewahyuan Al-qur’an dan sombong tidak mau menerima kitab suci itu.[4]

E. Segi-segi I’jazul Qur’an

Yang dimaksud segi-segi I’jazul Qur’an ialah hal-hal yang ada pada Al-qur’an yang menunjukkan bahwa kitab itu adalah benar-benar wahyu Allah SWT, dan ketidak mampuan jin dan manusia untuk membuat hal-hal yang sama seperti yang ada pada Al-qur’an.Menurut Syekh Abd. Adhim Az-Zarqony bahwa orang yang mengamati Al-qur’an dengan seksama akan mengetahui segi-segi kemu’jizatan Al-quran yang sangat menkjubkan sedikitnya ada 7 segi sebagai berikut:

1. Keindahan bahasa dan uslub al-qur’an. Segi bahasa dan uslubnya yang sangat indah dan amat menarik merupakan kemu’jizatan Al-quran yang pertama, karena memiliki kekhususan yang tinggi, sehingga amat mengherankan dan bahkan dapat melemahkan manusia yang mendengarkan nya. Hal ini terbukti banyak orang masuk islam karena hanya mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-qur’an.

2. Cara penyusunan bahasanya tampak baik, tertib, dan berkaitan antara satu dengan yang lain, sehingga kelihatan adanya perbedaan-perbedaan antara satu surah dengan surah yang lainnya, meski al-qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit selama 22 tahun lebih.

3. Berisi beberapa ilmu pengetahuan, yang banyak memberi acuan makluk kepada kebenaran dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

4. Yang membuktikan bahwa al-qur’an itu mu’jiz atau mukjizat ialah karena kitab suci itu bisa memenuhi segala kebutuhan manusia, baik berupa petunjuk-petunjuk dalam bebagai segi kehidupan, ataupun berwujud tuntutan dalam bemacam-macam peribadatan, maupun yang berbentuk benih-benih dalam beraneka disiplin ilmu pengetahuan disepanjang zaman. Hal ini tidak pernah terjadi di dalam kitab suci lain ataupun agama lain.

5. Kemukjizatan al-qur’an tampak juga dalam segi cara-caranya mengadakan perbaikan dan kemaslahatan-kemaslahatan bagi umat manusia.

6. Adanya berita-berita ghaib dalam al-qur’an juga menunjukan bahwa kitab suci tersebut benar-benar wahyu Allah SWT. Sebab berita-berita ghaib yang menceritakan yang telah terjadi ratusan ribu tahun lalu itu tidak mungkin diketahui oleh nabi apalagi bisa menceritakannya, kalau bukan wahyu dari Allah SWT yang maha mengetahui segala rahasia dan kejadiannya.

7. Adanya ayat kitab ( teguran). Didalam al-qur’an terkadang terdapat ayat-ayat kitab( ayat teguran ), yang menegur kekeliruan pendapat nabi Muhammad SAW. Kadang-kadang teguran itu secara tegas dan keras, kadang-kadang secara lunak dan lemah lembut.[5]

F. Bentuk Ijaz bahasa Al-Qur’an

Orang yang mempelajari gaya bahasa al-qur’an akan menemukan rahasia-rahasia i’jaz bahasa al-qur’an seperti dalam hal-hal berikut :

1. Sistem bunyi indah yang ditimbulkan oleh ketukan huruf-huruf al-qur’an hingga terdengar keserasian suara harakat, sukun, mad (panjang), ghunnah (dngung) dan bunyi rima ujung-ujung ayat.

2. Lafaz-lafaznya memberikan makna secara penuh sesuai pada tempatnya tanpa dikurangi atau dilebihkan.

3. Peragaman gaya bicara yang sesuai dengan segala tingkat pemahaman manusia. “dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 17).

4. Meyakinkan akal dan menyentuh emosi secara berimbang.[6]

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dikatakan I’jaz atau mu’jizat jika itu merupakan hal yang luar biasa, menakjubkan dan tidak ada yang dapat menandingi kemukjizatan tersebut. seperti halnya Nabi Muhammad yang mendapatkan wahyu berupa Al-Qur’an,dari sejak diturunkannya Al-Qur’an hingga saat ini tidak ada yang bisa menandingi ayat-ayat Al-Qur’an sekalipun itu penyair yang luar biasa. Kita tahu bahwa setiap Nabi diutus oleh Allah dengan dibekali mu’jizat, untuk meyakinkan manusia yang ragu dan tidak percaya terhadap pesan atau misi yang dibawa oleh Nabi. Mukjizat ini selalu dikaitkan dengan perkembangan dan keahlian masyarakat yang dihadapi tiap-tiap Nabi, setiap mukjizat bersifat menantang baik secara tegas maupun tidak, oleh karena itu tantangan tersebut harus dimengerti oleh orang-orang yang ditantangnya itulah sebabnya jenis mukjizat yang diberikan kepada para Nabi selalu disesuaikan dengan keahlian masyarakat yang dihadapinya dengan tujuan sebagai pukulan yang mematikan bagi masyarakat yang ditantang tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Eldeed, Ibrahim. Be A Living Quran. terjemahan Faruq Zaini. 2009. Ciputat: Lentera Hati.

Hamzah, Muchotob. Studi Al-Qur’an Komperhensif. 2003. Yogyakarta: Gema Media.

Sya’romi, Sam’ani. Tafkirah Ulum Al-Qur’an. 2013. Al-Ghatasi Putra.

[1] Sam’ani Sya’romi, Tafkirah Ulum Al-Qur’an, (Al-Ghatasi Putra, 2013), hlm. 101.

[2] Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komperhensif, (Yogyakarta: Gema Media:2003), hlm. 212.

[3]Ibid, hlm. 213-214.

[4]Syam’ani Sya’roni, Opcit., hlm. 102-103.

[5] Syam’ani Sya’roni, Opcit., hlm. 103-106

[6]Ibrahim Eldeed, Be A Living Quran, terjemahan Faruq Zaini (Ciputat : Lentera Hati, cet. 1 maret 2009), hlm. 61.

Download Materi Kuliah Lengkap

0 komentar:

Post a Comment