Makalah Tarjamah Alquran - Ulumul Quran

Download Materi Kuliah Lengkap


Makalah Tarjamah Alquran - Ulumul Quran
 KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
             Segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam. Atas segala karunia, rahmat, hidayah, dan taufik-Nya, penyusunan makalah yang berjudul “Tarjamah Al-qur’an” dapat kami selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, meskipun kami mengakui makalah ini masih jauh dari sempurna.
             Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, manusia sempurna yang senantiasa kita harapkan syafaatnya dan yang telah membimbing umatnya dengan penuh kesabaran kejalan yang benar.
            Kami berharap agar pembaca sekalian tidak merasa puas dengan penjelasan dari berbagai hal yang ada dalam makalah ini. Tetapi diharapkan terus mencari dan menggali dari sumber atau hukum lainnya yang berkaitan dengan bab ini.
            Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian penyusunan makalah ini, semoga mereka semua mendapatkan balasan dari Allah SWT. Tentu terdapat beberapa kekurangan dan kekeliruan dalam menyusun makalah dan penulisan makalah ini, oleh karenanya kami memohon maaf. Lebih dari itu kami berharap atas kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak atau pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Mudah–mudahan bermanfaat .
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

                                                                              Pekalongan, November 2016


Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR------------------------------------------------------------- 1
DAFTAR ISI------------------------------------------------------------------------- 2
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang--------------------------------------------------------- 3
B. Rumusan Masalah------------------------------------------------------ 4
C. Tujuan Penulisan-------------------------------------------------------- 4
BAB II: PAMBAHASAN
A. Pengertian Tarjamah-------------------------------------------------- 5
B. Hukum Terjemah Harfiyah--------------------------------------------- 7
C. Terjemah Maknawiyah------------------------------------------------- 7
D. Hukum Terjemah Maknawiyah----------------------------------------- 8
E. Terjemah Tafsiriyah----------------------------------------------------- 9
F. Membaca Qur’an Dalam Sholat Dengan Selain Bahasa Arab--------- 11
G. Urgensi Kekuatan Umat Islam Dalam Menagakkan Isla Dan Bahasa    Qur’an   13
BAB III: PENUTUP
A. KESIMPULAN------------------------------------------------------- 16
DAFTAR PUSTAKA---------------------------------------------------- 17



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Keberhasilan dakwah sangat bergantung pada kedekatan juru dengan umatnya. Juru dakwah yang lahir dari suatu lingkungan tentu akan memahami denga sempurna lorong-lorong kesesatan dan liku-liku kebodohan yang membungkus kaumnya. Ia mengenali jiwa mereka dan pintu-pintu yang harus dilaluinya. Hal ini dapat membuka jiwa mereka umtuk menerima ajaran-ajaran dakwah dan mengambil petunjuknya. Komunikasi diantara kedua belah pihak dengan satu bahasa merupakan lambang bagi kesamaan komunitas sosial dalam segala bentuknya. Dalam hal ini Allah berfirman “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul-pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka..” (Ibrahim: 4).
            Qur’an mulia diturunkan kepada Rasul berbangsa Arab dengan bahasa Arab yang jelas. Fenomena ini merupakan tuntutan sosial bagi keberhasilan risalah Islam. Dan sejak saat itu bahasa Arab menjadi satu bagian dari eksistensi Islam dan asas komunikasi penyampaian dakwahnya. Misi Rasul kita adalah kepada umat manusia seluruhnya.







B. Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian tarjamah?
  2. Bagaimana hukum tarjamah harfiyah?
  3. Apa yang dimaksud dengan tarjamah maknawiyah?
  4. Bagaimana hukum tarjamah maknawiyah?
  5. Apa yang dimaksud dengan tarjamah Tafsiriyah?
  6. Bagaimana Membaca Qur’an Dalam Sholat Dengan Selain Bahasa Arab?
  7. Apa urgensi kekuatan Umat Islam dalam menagakkan Islam dan Bahasa Qur’an?
C. Tujuan Penulisan
  1. Menjelaskan pengertian tarjamah alqur’an.
  2. Menjelaskan hukum tarjamah harfiyah.
  3. Menjelaskan dan memahami tarjamah maknawiyah.
  4. Menjelaskan hukum tarjamah maknawiyah.
  5. Memahami yang dimaksud tarjamah Tafsiriyah.
  6. Menjelaskan Membaca Qur’an dalam Sholat dengan Selain Bahasa Arab.
  7. Menjelaskan Urgensi Kekuatan Umat Islam dalam Menagakkan Islam Dan Bahasa Qur’an.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tarjamah
            Secara harfiah terjemah berarti menyalin atau memindahkan suatu pembicaraan dari satu bahasa ke bahasa kain, atau singkatnya mengalih bahasakan. Sedangkan terjemahan, berarti salinan bahasa, atau alih bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain.[1]
Kata "terjemah” dapat dipergunakan pada dua arti :
1)      Terjemah Harfiyah, yaitu mengalihkan lafadz – lafadz dari satu bahasa ke dalam lafadz – lafadz yang serupa dari bahasa lain sedemikian rupa sehingga sususan dan tertib bahasa kedua sesuai dengan susunan dan tertib bahasa pertama.
2)      Terjemah Tafsiriyah atau Terjemah Maknawiyah , yaitu menjelaskan makna pembicaraan dengan bahasa lain tanpa terikat dengan tertib kata – kata bahasa asal atau memperhatikan susunan kalimatnya.
            Mereka yang mengetahui pengetahuan tentang bahasa – bahasa tentu mengetahui bahwa terjemah harfiyah dengan pengertian sebagaimana diatas tidak mungkin dicapai dengan baik jika konteks bahasa asli dan cakupan semua maknanya tetap dipertahankan. Sebab karakteristik setiap bahasa berbeda satu dengan yang lainya dalam hal tertib bagian – bagian kalimatnya. Sebagai contoh jumlah fi’liyah (kalimat verbal) dalam bahsa Arab dimulai dengan “fi’il” (kata kerja yang berfungsi sebagai predikat), kemudian “fail” (subyek), baik dalam kalimat tanya (istifham) maupun lainya.
            Selain itu bahasa Arab dicelah – celahnya mengandung rahasia – rahasia bahasa yang tidak mungkin digantikan oleh ungkapan lain dalam bahasa non Arab. Sebab, lafadz – lafadz dalam terjemahan itu tidak akan sama maknanya dalam segala aspeknya, terlebih lagi dalam susunanya.
Kekakuan terjemahan harfiah dan keluwesan terjemah tafsiriah akan semakin terasa manakala digunakan untuk menerjemahkan al quran. Sebagai ilustrasi perhatikan ayat berikut
QS. Al isra’ : 29
Ÿwur ö@yèøgrB x8ytƒ »'s!qè=øótB 4n<Î) y7É)ãZãã Ÿwur $ygôÜÝ¡ö6s? ¨@ä. ÅÝó¡t6ø9$# yãèø)tFsù $YBqè=tB #·qÝ¡øt¤C ÇËÒÈ  
Artinya: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”.
            Jika ayat tersebut diterjemahkan secara harfiah, maka pengertiannya berarti Allah melarang seseorang membelenggu atau mengikat tangannya diatas pundaknya. Padahal yang dimaksud adalah larangan bersikap pelit dalam membelanjakan harta disamping melarang bersikap boros.
Contoh lain dalam QS Al fajr – 14
¨bÎ) y7­/u ÏŠ$|¹öÏJø9$$Î7s9 ÇÊÍÈ
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS.Al-fajr;14)
            apabila diartikan secara leterlek, maka pemahamannya Allah selalu mengintai-intai hambaNya. Padahal, yang dikehendaki oleh ayat ini ialah bahwa Allah senantiasa mengingatkan hambaNya untuk tidak bersikap lengah dalam mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dalam kehidupannya.[2]

B.     Hukum Terjemah Harfiyah
            Atas dasar pertimbangan diatas maka tidak seorang pun merasa ragu tentang haramnya menerjemahkan al-Qur’an  dengan terjemah harfiyah. Sebab Qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Rosul-Nya, merupakan mukjizat dengan lafadz dan maknanya, serta membacanya dipandang sebagai suatu ibadah. Disamping itu, tidak seorang manusia pun berpendapat, kalimat – kaliamat itu jika diterjemahkan, dinamakan pula Kalamullah. Sebab Allah tidak berfirman kecuali dengan Qur’an yang kita baca dengan bahasa Arab, dan kemukjizatan pun tidak akan terjadi dengan terjemahan, karena kemukjizatan hanya khusu bagi Qur’an yang diturunkan dalam bahsa Arab. Kemudian yang dipandang sebagai ibadah dengan membacanya ialah Qur’an berbahasa Arab yang jelas, berikut lafadz – lafadz, huruf – huruf dan tertib kata – katanya.
            Dengan demikian, penerjemahan Qur’an dengan terjemah harfiyah, betapapun penerjemah memahami betul bahasa, dan susunan kalimatnya, dipandang telah mengeluarkan Qur’an dari keadaannya sebagai Qur’an.
C.    Terjemah Maknawiyah
            Qur’an al–Karim, demikian juga kalam Arab yang mempunyai makna – makna asli (pokok, utama) dan makna – makna sanawi (sekunder). Yang dimaksud dengan makna asli adalah makna yang dipahami secara sama oleh setiap orang yang mengetahui pengertian lafadz secara mufrad (berdiri sendiri) dan mengetahui pula segi – segi susunanya secara global. Sedangkan yang dimaksud makna sanawi berarti karakteristik (keistimewaan) susunan kalimat yang menyebabkan suatu perkataan berkualitas tinggi. Dan dengan makna inilah Qur’an dinilai sebagai mukjizat.
            Makna asli sebagai ayat terkadang sejalan dengan prosa dan puisi kalam Arab. Tetapi hal ini tidak menyentuh, mempengaruhi kemukjizatan Qur’an, karena kemukjizatanya terletak pada keindahan susunan dan penjelasanya yang sangat mempesona, yaitu dengan makna sanawi. Itulah yang dimaksud dengan pernyataan Zamakhsyari dalam al-kasyasyaf-nya, “sesunggguhnya didalam kalam Arab, terutama Qur’an, terdapat kepelikan dan kelembutan makna yang tidak dapat diberikan oleh bahasa manapun juga.
D.    Hukum Terjemah Maknawiyah
            Menerjemahkan makna – makna sanawi Qur’an bukanlah hal mudah, sebab tidak terdapat satu yang sesuai dengan bahasa Arab dalam dalalah (petunjuk) lafadz – lafadznya terhadap makna – makna yang oleh ahli illmu bayan dinamakan khawassut-tarkib (karakteristik – karakteristik susunan). Hal demikian tidak mudak didakwahkan seseorang. Dan itulah yang dimaksud Zamakhsyari dalam pernyataan diatas. Segi – segi balgah Qur’an dalam lafadz atau susunan, baik makirah dan ma’rifatnya, taqdim daan ta’khirnya, disebutkan dan dihilangkanya maupuan hal – hal lainnya adalah yang menjadi keunggulan bahasa Qur’an.  Dan ini mempunya pengaruh tersendiri terhadaap jiwa. Segi – segi kebalagahan Qur’an ini tidak mungkin terpenuhi jika makna – makna tersebut dituangkan dalam bahsa lai, karena bahasa manapun tidak mempunyai khawas tersebut.
            Adapun makna – makna asli, dapat dipindahkan kedalam bahasa lain. Dalam al-muwaffaqat, syatibi menyebutkan makna – makna asli dan makna – makana sanawi. Ia menjelaskan , menerjemahkan Qur’an dengan cara pertama yakni dengan memperhatikan makna asli adalah mungkin. Dari segi inilah dibenarkan menafsirkan Qur’an dan menjelaskan makna – maknanya kepada kalangan awan dan mereka tidaak mempunyai pemahaman kuat untuk mengetahui makna – maknanya. Cara demikian diperbolehkan berdasarkan konsensus ulama islam. Dan konsensus ini menjadi hujjah dibenarkanya penerjemahan makna asli Qur’an.
            Namun demikian terjemahan makna – makna asli itu tidak terlepas dari kerusakan karena satu buah lafadz di dalam Qur’an terkadang mempunyai dua makna atau lebih yang diberikan ayat. Maka dalam keadaan demikian biasanya penerjemah hanya meletakan satu lafadz yang menunjukan satu makna, karena ia tidak mendapatkan lafadz serupa dengan lafadz Arab yang dapat memberikan lebih dari satu makna itu.
            Terkadang Qur’an menggunakan sebuah lafadz dalam pengertian majas (kiasan), maka dalam hal demikian penerjemah hanya mendatangkan satu lafadz yang sama dengan lafadz Arab dimaksud dalam pengertianya yang hakiki. Karena hal ini dan lainya maka terjadi banyak kesalahan dalam penerjemahan makna – makna Quran.
            Pendapat yang dipilih oleh Syatibi diatas yang dianggapnya sebagai hujjah tentang kebolehan menerjemahkan makna – makna asli Qur’an tidaklah mutlak. Sebab sebgaian ulama membatasi kebolehan penerjemah seperti itu dengan kadar darurat dalam menyampaikan dakwah. Yaitu yang berkenaan dengan tauhid dan rukun – rukun ibadah, tidak lebih dari itu. Sedang bagi mereka yang ingin menambah pengetahuanya , diperintahkan untuk mempelajari bahasa Arab.[3]
E.     Terjemah Tafsiryah
            Terjemah tafsiriyah merupakan penerjemahan makna – makna Qur’an dengan penuh kejujuran dan kecermatan. Dalam arti mensyarahi (mengomentari) perkataan dan menjelaskanya dengan bahsa lain. Usaha seperti ini tidak ada halangan, karena Allah mengutus Muhammad untuk menyampaikan risalah islam kepada seluruh umat manusia. Dengan segala bangsa dan ras yang berbeda – beda .Nabi menjelaskan :
            “setiap Nabi yang diutus kepda kaumnya secara khusus, sedang aku diutus kepada manusia seluruhnya.”
            Dalam hal itu salah satu syarat risalah ialah balag (sampai kepada umat rosul bersangkutan) dan Quur’an yang diturunkan dalam bahasa Arab itu, penyampaianya kepada umat Arab merupakan suatu keharusan . akan tetapi uma-uamat lain yang tidak pandai bahasa Arab atau tidak mengerti sama sekali, penyampaian dakwah kepda mereka tergantung penerjemah dakwah itu kedalam bahasa mereka. Padahal kita mengetahui mengenai kemustakhilan dan keharaman terjemah harfiyah dan juga kemustakhilan terjemah makna sanawi, sulitnya terjemah makna asli dan bahaya yang terdapat didalamnya. Oleh karena itu, jalan satu – satunya yang dapat ditempuh ialah menerjemahkan tafsir Qur’an yang mengandung asas – asas dakwah dengan cara yang sesuai dengan nas – nas Kitab dab Sunah, ke dalam bahasa setiap suku bangsa. Maka dengan cara ini sampailah dakwah kepada mereka dan tegaklah hujjah.
            Corak terjemah tafsiriyah berbeda dengan terjemah maknawiyah. Sekalipun peneiliti tidak membedakan antara keduanya. Sebab dalam terjemah maknawiyah terkesan seakan – akan penerjemah telah mengmbil makna – makna Qur’an dengan berbagai aspeknya dan memindahkanya ke dalam bahasa asing, non-Arab. Sebagaimana dalam terjemahan selain Qur’an yang biasa disebut “terjemah yang sesuai dengan bahasa aslinya”.
  • Syarat Penerjemah
  1. Mutarjim alquran pada dasarnya harus memenuhi prasyarat yang dikenakan pada mufassir seperti memiliki I’tikad baik, niat yang tulus (husn al niyah), menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan semisal ilmu kalam, fikh,  ushul fikih, ilmu akhlak dan lain-lain. Dengan persyaratan ini penrjemah diharapkan terhind dari salah/keliru dalam menerjemahkan alquran.
  2. Mutarjim alquran harus memiliki akidah islamiah yang kuat dan lurus (shihat al I’tiqad). Sebab orang yang tidak memiliki akidah islamiah yang sehat, pada dasarnya tidak dibolehkan untuk menerjemahkan dan atau menafsirkan alquran karena tidak sejalan dengan tujuan utama dari penurunan itu sendiri yakni sebagai buku petunjuk.
  3. Mutarjim harus menguasai dengan baik dua bahasa yang bersangkutan, yakni bahasa asal yang diterjemahkan disatu pihak dalam konteks ini bahasa alquran ( arab ) dan bahasa terjemahan itu sendiri dalam hal ini bahasa indonesia dipihak lain. Apabila menguasai salah satunya saja, maka tidaklah mungkin dapat melahirkan terjemahan alquran dan lain-lain yang benar-benar handal.[4]
  4. Sebelum menrjemahkan alquran, penerjemah harus lebih dulu menuliskan ayat-ayat alquran itu sendiri yang hendak diterjemahkan, dan baru kemudian diterjemahkan dan atua ditafsirkan sekaligus. Selain dimaksudkan untuk memudahkan pembaca mengecek makna yang sesungguhnya manakala terdapat terjemahan alquran yang diragukan kebenarannya, juga terutama dalam rangka mempertahankan otentitas teks alquran yang wahyu Allah itu.
F.      Membaca Qur’an Dalam Sholat Dengan Selain Bahasa Arab
            Pendapat para ulama dalam hal pembacaan qur’an dalam salat dengan selain bahasa arab, terbagi atas dua madzhab
  1. boleh secara mutlak atau disaat tidak sanggup mengucapkan                         dengan bahasa arab
  2. haram, dan salat dengan bacaan seperti ini tidak sah
            Pendapat pertama adalah pendapt ulama madzhab hanafi. Diriwayatkan dari abu hanifah bahwa ia berpendapat, boleh dan sah membaca alqur’an dalam salat dengan bahasa persia.dan atas dasar ini sebagian sahabat (muridnya) memperbolehkan pula membacanya dengan bahasa turki, indi, dan bahasa-bahasa lainya. Nampaknya mereka memandang dalam hal ini, quran adalah nama bagi makna-makna (substansi, hakikat) yang ditunjukkan oleh lafadz dan bahasa.
            Dua orang murid abu hanifah, abu yusuf dan muhammad bin husain, membatasi hal tersebut dengan “dalam keadaan darurat’’, mereka memperbolehkan bagi yang tidak mampu mengucpakan bahasa arab, membaca qur’an dalam salat dengan bahasa asing, tetapi tidak bagi yang sanggup membacanya dengan bahasa arab. Dalam mi’rajud dirayah dikemukakan. Kami memperbolehkan membaca terjemah quran dalam salat bagi yang tidak mampu jika hal itu tidak termasuk makna, sebab terjemahan tersebut adalah quran juga dilihat dari cakupannya terhadap makna. Oleh karena itu maka membacanya lebih baik daripada meninggalkannya samasekali karena pembebanan (taklif) itu sesuia dengan kemampuan. Diriwayatkan abu hanifah mencabut kembali “ kebolehan secara mutlak” yang di nukil dari beliau tersebut
            Pendapat kedua adalah pendapat jumhur. ulama madzhab hanafi, syafi’I dan hambali tidak memperbolehkan bacaan terjemah qur’an dalam sholat, baik ia mampu membaca bahasa arab ataupun tidak, sebab terjemah quran bukanlah qur’an. Qur’an adalah susunan perkataan mukjizat yaitu kalamullah yang menurut – Nya sendiri berbahasa arab, dan dengan menerjemahkannya hilanglah kemukjizatanyya dan terjemahannya itu bukan kalamullah.
            Berkata Qadi Abu Bakr ibnul arabi salah sesorang fuqaha maliki, ketika menafsirkan firman Allah: ’’Dan sekiranya Qur’an kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa arab niscaya mereka mengatakan : ‘mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? “apakah patut (Qur’an) dalam bahasa selain bahasa arab sedang (rasul), orang arab ? “ (fussilat: 44)
            Para ulama mengatakan, ayat ini membatalkan pendapat Abu hanifah yang menyatakan bahwa menerjemahkan Qur’an dengan menggantikan bahasa arabnya dengan bahasa persia itu boleh,. Sebab, Allah telah berfirman dalam surat fussilat ayat 44. Dalam ayat ini Allah menafikan jalan bagi bahasa asing untuk dapat masuk kedalam Qur’an, tetapi mengapakah abun hanifah malah membawanya kepada apa yang dinafikan Allah tersebut?[5]
            Syaikhul ibnul Taimiyah berkata, salah seorang fuqaha hambali, sekalipun ia mempunyai ijtihad-ijtihad sendiri : “ Adapun mendatangkan lafaz untuk menjelaskan makna seperti penjelasan lafaz-lafaz Quran maka hal ini tidak mungkin samasekali. Oleh karena ittu para pemimpmin agama berpendapat, tidak boleh membaca Quran dengan selain bahasa arab maupun bagi yang tidak mampu, sebab yang demikian akan mengeluarkan Quran daei statusnya sebagai Qur’an yang diturunkan Allah.[6]
            Agama mewajibkan kepada para pemeluknya agar mempelajari bahasa arab, kaarena bahasa ini adalah bahasa qur’an dan kunci untuk memahaminya. Kata ibnu taimiyah dalam al iqtida. Karena bahasa arab itu sendiri termasuk agma dna mengetahuinya adalah fardu yang wajib, karena memahami kitab dan sunah adalah fardu,. Keduanya tidak dapat dipahami kecuali dengan memahami bahasa arab,. Sesuatu, yang kewajiban tidak dapat dijalankan secara sempurna kecuali dengannya, maka ia adsalah wajib.
            Adapun pendapat ulama mazhab hanafi mengenai kebolehan solat dengan terjemahan Qur’an, maka mereka yang membolehkan memandang kebolehan ini hanya sebagai rukhsah (dispensasi) bagi orang yang tidak mampu. Namun mereka tetap sependapat bahwa terjemahan Qur’an tidaklah dinamakan Qur’an. Terjemahan itu dibolehkan agar semata-mata agar sholat menjadi sah. Dan status terjemahan ini sama dengan status zikir kepada Allah dalam pendapat ulama diluar mazhab hanafi.
G.    Urgensi Kekuatan Umat Islam Dalam Menagakkan Isla Dan Bahasa Qur’an
            Dari pembahasan diatas dapat disimpulka bahwa Quran tidak mungkin dan tidak boleh diterjemahkan secara harfiyah, dan ter jemah makna-makna asli sekalipun dapat dilakukan pada beberapa yang jelas maknanya, tetapi ia tidak terlepas dari kerusakan.
            Kini tinggalah menafasirkan Qur’an dan menerjemahkan tafsirnya untuk menyampaikan dakwah. Terjemahan tafsir itu diperkenankan menurut kadar kebutuhan dalam menyampaikan dakwah islam kepada bangsa-bangsa non islam. Al hafiz ibnu hajar menjelaskan “barang siapa masuk agama islam atau ingin masuk islam lalu dibacakan Qur’an kepadanya tetapi ia memahaminya, maka tidak ada halangan bila Qur’an diterangkan kepadanya untuk memperkenalkan hukum-hukumnya atau agar tegaklah hujjah baginya, sebab hal itu dapat menyebabkannya masuk islam.[7]
            Kaum muslimin terdahulu berani menempuh segala kesulitan demi kejayaan islam, dan menghadapi segala bahaya demi tersebarnya agama Allah. Sementara itu bahasa arab berjalan dibelakang mereka kemanapun mereka pergi mengibarkan panji-panji mereka dan bertebaran disetiap lembah yang di injak mereka. Dalam dakwah islam iini mereka mersa tidak perlu mengalihbahasakan makna-makna Qur’an ke dalam bahasa asing. Dengan keadaan mereka tetap pada kedudukan mulia dan berkuasa, tidak jarang merupakan salah satu faktor pendorong non-Arab untuk mengetahui dan mempelajari bahasa arab, sehingga negeri-negeri asing itu bdrbicara dengan bahasa arab.[8]
            Fenomena yang kita saksikan dewasa ini tentang pentingnya mempelajari bahasa-bahasa asing bagi bangsa arab, sehingga bangsa arab dapat mengirimkan misi-misi ilmiah ke berbagai universitas negara-negar lain atau dapat mengkaji buku-buku induk ilmu pengetahuan alam di universitasnya. Mengingat buku buku tersebut ditulis dalam bahasa asing dan oleh pengarang asing pula, merupakan tuntutan logis dari kebutuhan akan ilmu dan peradaban. Kita melihat buku-bku tersebut telah menyebrkan pengaruhnya dalam pemikiran sebagian besar orang, menentukan kecenderungan-kecenderungan mereka dalam pola kehidupan, dan bahkan sampai pada tingkat kecintaan dan kegemaran terhadapnya serta ekspansi seni-seninya. Buku-buku itu telah membawa pengaruh besar terhadap moral. Kebiasaan dan tradisi yang menyebabkan kehidupan kita pada umumnya dan dalam berbagai coraknya keluar dari ciri-ciri islam dan nilai-nilai positifnya. Pada hal bangsa-bangsa lain tidak merasa perlu menrjemahkan buku-buku mereka kedalam bahasa Arab, mengingat status ilmiahnya.
            Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita mengarahkan pandangan untuk mencurahkan kesungguhan kita dalam membentuk kedaulatan Qur’an dan mengokohkan pilar-pilar kebangkitannya atas dasar iman, ilmu, dan pengetahuan. Sebab, hanya itu sajalah yang dapat menjamin kekuasaan spiritual atas berbagai bangsa dan juga dapat meng-arab-kan bahsa mereka. Apabila islam merupakan agama umat manusia seluruhnya maka bahasanya-pun hendaknya demikian adanya, jika kita berusaha mewujudkan kemuliaan yang ditentukan Allah bagi islam dan umatnya.[9]














BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Secara harfiah terjemah berarti menyalin atau memindahkan suatu pembicaraan dari satu bahasa ke bahasa kain, atau singkatnya mengalih bahasakan. Sedangkan terjemahan, berarti salinan bahasa, atau alih bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain.
            Terjemah Harfiyah, yaitu mengalihkan lafadz – lafadz dari satu bahasa ke dalam lafadz – lafadz yang serupa dari bahasa lain sedemikian rupa sehingga sususan dan tertib bahasa kedua sesuai dengan susunan dan tertib bahasa pertama.
            Terjemah Tafsiriyah atau Terjemah Maknawiyah , yaitu menjelaskan makna pembicaraan dengan bahasa lain tanpa terikat dengan tertib kata – kata bahasa asal atau memperhatikan susunan kalimatnya.














Daftar pustaka
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia Departemen Pendididkan Dan Kebudayaan, Kamus Besaer Bahasa Indonesia, Jakarta, 1989, Hlm.938.
Muhammad Husay
n Al Dzahabi, Al Tafsir Wa Al Mufassirun,J. 1, 1396 H/1976
Fathul bari. Babma yajuzu nin tafsirit taurah wa kutubillah bil arabiyah
Al-Qattan, Manna’ Khalil, 2015, studi ilmu-ilmu Qur’an: diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Mudzakir AS. Cet. 18, Bogor: pustaka Litera Antar Nusa.



















[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia Departemen Pendididkan Dan Kebudayaan, Kamus Besaer Bahasa Indonesia, Jakarta, 1989,hlm.938.
[2] Muhammad Husain Al dzahabi, op. cit., hlm.23
[3] Ibid, hlm 447
[4] Muhammad Husayn Al Dzahabi, Al Tafsir Wa Al Mufassirun,J. 1, 1396 H/1976 M,Hlm.23.
[5] Ibid,hlm 452
[6] Balagatul Qur’an, hlm 15
[7] Fathul bari. Bab “ma yajuzu nin tafsirit taurah wa kutubillah bil arabiyah”
[8] Balagatul Qur’an, hlm.18
[9] Al-Qattan, Manna’ Khalil, studi ilmu-ilmu Qur’an: diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Mudzakir AS. Cet. 18, Bogor: pustaka Litera Antar Nusa.2015.

Download Makalah Doc

Download Materi Kuliah Lengkap

0 komentar:

Post a Comment